Oleh : Lajnah Daimah Lil Buhuts Al-Ilmiah Wal Ifta
Pertanyaan ?
Lajnah Daimah Lil Buhuts Al-Ilmiah Wal Ifta ditanya :
Bolehkan dia shalat (menjadi makmum) di belakang mereka.
Wajibkah dia hijrah dari mereka ? Apakah kesyirikan mereka termasuk syirik besar ?
Dan apakah ber-wala kepada mereka sama seperti ber-wala kepada orang kafir yang
sesungguhnya ?
Jawaban :
Jika jamaah yang Anda tinggal bersama mereka itu keadaannya memang seperti yang Anda ceritakan, yaitu ber-istighatsah kepada selain Allah, baik kepada orang-orang yang telah meninggal, orang yang tidak hadir (tidak ada bersamanya), pohon, batu, bintang-bintang, dan selainnya, maka mereka musyrik syirik besar, keluar dari agama Islam. Tidak boleh ber-wala kepada mereka sebagaimana tidak boleh ber-wala kepada orang kafir.
Tidak sah shalat di belakang mereka dan tidak boleh bergaul dengan mereka ataupun tinggal di tengah-tengah mereka, kecuali bagi orang yang ingin mengajak mereka kepada kebenaran di atas petunjuk dan ada harapan mereka akan menerima ajakan serta dia dapat memperbaiki keadaan agama mereka. Jika tidak bisa, wajib baginya hijrah dari mereka dan mencari jama'ah lain yang mau bersama-sama bahu membahu membangun pondasi Islam dan cabang-cabangnya, serta menghidupkan sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.
Jika dia tidak mendapatkan jamaah seperti itu, maka hendaknya dia berlepas diri dari jamaah-jamaah yang ada walaupun terasa berat.
Hal ini berdasarkan hadits yang shahih dari
Hudzaifah Radhiyallahu 'anhu ia berkata.
"Orang-orang bertanya kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tentang kebaikan, sedangkan aku bertanya kepada beliau tentang keburukan karena khawatir terjerumus ke dalamnya.
Aku berkata, 'Wahai Rasulullah, kami dahulu berada dalam kejahilan dan kejelekan, lalu Allah mendatangkan kebaikan ini (yaitu Islam).
Apakah sesudah kebaikan in ada kejelekan ?' Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab,
'Ya'. Aku bertanya lagi,
'Apakah sesudah kejelekan itu ada kebaikan ?
' Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab, 'Ya, tetapi padanya ada dakhan
[1]'. 'Apa dakhan-nya ?' tanyaku.
Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab,
'Suatu kaum yang bersunnah bukan dengan sunnahku dan mengambil petunjuk bukan dari petunjukku. Kalian mengetahui siapa mereka dan kalian ingkari'.
Aku bertanya lagi, 'Apakah setelah kebaikan ini ada kejelekan lagi?'.
'Ya, para dai yang menyeru di atas pintu-pintu Jahannam.
Siapa saja yang mengikuti mereka, akan mereka jebloskan ke dalamnya'.
Jawab Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam.
Aku berkata, 'Ya Rasulullah, gambarkan keadaan mereka kepada kami'.
Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata,
'Mereka dari bangsa kita dan berbicara dengan bahasa kita'.
Aku berkata, 'Ya Rasulullah, apa yang engkau perintahkan jika kami mendapati mereka ?
' Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata, 'Tetaplah bersama jama'ah kaum muslimin dan imam mereka'. Aku bertanya, 'Jika mereka tidak memiliki jama'ah dan juga imam?'
Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Tinggalkan jamaah itu semuanya, sekalipun engkau harus menggigit akar pohon, sampai kematian datang kepadamu sedang dalam keadaan seperti itu".
[Hadits Riwayat Bukhari VIII/92, Muslim Syarah Nawawi XII/236, Abu Dawud IV/445, 447]Semoga shalawat tercurah kepada Nabi, keluarganya dan sahabat-sahabatnya
Syrik adalah suatu kezholiman. Perbuatan yang menempatkan suatu Ibadah bukan pada tempatnya, memberinya kepada yang tidak berhak menerimanya. Syrik bukan hanya khusus penyembah berhala saja. Kesyrikan yang dimaksudkan didalam Al-Qur'an dan As-Sunnah yang pernah diperangi oleh Rasululloh SAW dimasa Kafir Quraisy Jahilia adalah tentang, KEKUFURAN yaitu Al-I'tikod / Keyakinan hati
Jumat, 21 November 2008
WASPADAI ! IKLAN SANG DUKUN!
Seorang lelaki paruh baya berpenampilan lusuh dengan rambut terurai tak rapi, muncul dan berkata
"Anda ingin tahu keberuntungan Anda di masa depan?"
"Ketik Reg(spasi)Weton kirim ke 9999.
"Ilustrasi di atas adalah contoh iklan yang memanfaatkan teknologi HP yang beredar di TV akhir-akhir ini. Iklan-iklan yang mengedepankan mistis dan ghaib, bermaterikan kesyirikan, muncul bagai jamur di musim hujan. Ada yang bermodel tanggal lahir seperti disebut di atas,
ada yang menggunakan primbon, ada ramalan bintang dan lain sebagainya. Pelakunya pun bermacam-macam; ada Ki Joko Bodo, Mbah Roso, ada juga Mama Lauren, dan masih banyak lagi.
Dalam pandangan syariat Islam pelaku semua itu dinamakan dukun atau peramal.
Para dukun dan peramal ini dengan terang-terangan mendakwahkan dirinya mengetahui perkara gaib, dan menyeru manusia untuk berbondong-bondong melakukan kesyirikan. Sebagian orang mungkin sudah bisa menebak, bahwa itu adalah sebuah bentuk perdukunan yang dikemas rapi. Namun, ada sebagian orang yang tidak mengerti dan terjerumus ke dalam lembah kesyirikan ini. Na’udzubillah min dzalik. Nah, sebenarnya bagaimana hakikat perdukunan dan bagaimana hukum mendatangi dukun (dengan kita mengirimkan sms kepada mereka sama saja dengan mendatanginya) ?
Berikut ini adalah.
Fatwa Syekh Ibnu Utsaimin yang menjelaskan tentang,
Perdukunan dan hukum mendatangi dukun
Kahanah (perdukunan) wazan fa'alah diambil dari kata takahhun, yaitu menerka-nerka dan mencari hakikat dengan per¬kara-perkara yang tidak ada dasarnya. Perdukunan di masa jahiliyah dinisbatkan kepada suatu kaum yang dihubungi oleh para setan yang mencuri pembicaraan dari langit dan menceritakan apa yang didengarnya kepada mereka.
Kemudian mereka mengambil ucapan yang disampaikan kepada mereka dari langit lewat perantaraan para setan dan menambahkan pernyataan di dalamnya. Kemudian mereka menceritakan hal itu kepada manusia. Jika sesuatu terjadi yang sesuai dengan apa yang mereka katakan, maka orang-orang tertipu dengan mereka dan menjadikan mereka sebagai rujukan dalam memutuskan perkara di antara mereka serta menyimpulkan apa yang akan terjadi di masa depan. Karena itu, kita katakan,
"Dukun adalah orang yang menceritakan tentang perkara-perkara ghaib di masa yang akan datang." Sedangkan orang yang mendatangi dukun atau peramal itu terbagi menjadi tiga macam:
Pertama :
Orang yang datang kepada dukun atau peramal lalu bertanya kepadanya dengan tanpa mempercayainya. Ini diharamkan. Hukuman bagi pelakunya ialah tidak diterima shalatnya selama 40 malam, sebagaimana termaktub dalam Shahih Muslim bahwa Nabi bersabda :
"Barangsiapa yang datang kepada peramal lalu bertanya kepadanya tentang suatu perkara, maka tidak diterima shalatnya selama 40 hari atau 40 malam."
(Riwayat Muslim)
Kedua :
Orang yang datang kepada dukun lalu bertanya kepadanya dan mempercayai apa yang diberitakannya, maka ini merupakan kekafiran kepada Allah.
Karena ia mempercayai bahwa sang dukun mengetahui perkara gaib, sedangkan mempercayai seseorang tentang pengakuannya mengetahui perkara gaib adalah mendustakan
firman Allah,
"Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang gaib, kecuali Allah."
(An-Naml: 65)
Karenanya, disinyalir dalam hadits shahih,
" Barangsiapa mendatangi dukun lalu mempercayai apa yang diucapkannya, maka ia telah kafir kepada apa yang diturunkan kepada Muhammad."
(Riwayat At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad)
Ketiga :
Orang yang datang kepada dukun lalu bertanya kepadanya untuk menjelaskan ihwalnya kepada manusia, dan bahwasanya itu adalah perdukunan, pengelabuan dan penyesatan. Ini tidak mengapa. Dalil mengenai hal itu, bahwa Nabi kedatangan Ibnu Shayyad, lalu Nabi menyembunyikan sesuatu untuknya dalam dirinya, lalu beliau bertanya kepadanya, apakah yang beliau sembunyikan untuknya? la menjawab, "Asap." Nabi bersabda,"Pergilah dengan hina, kamu tidak akan melampaui kemampuanmu. "
(Riwayat Bukhari dan Muslim)
Inilah keadaan orang yang datang kepada dukun,
Pertama :
Ia datang kepada dukun lalu bertanya kepadanya dengan tanpa mempercayainya dan tanpa tujuan menjelaskan keadaannya (kepada manusia). Ini diharamkan, dan hukuman bagi pelakunya ialah tidak diterima shalatnya selama 40 malam.
Kedua :
Ia bertanya kepadanya dan mempercayainya. Ini kekafiran kepada Allah, yang wajib atas manusia bertaubat darinya dan kembali kepada Allah. Jika tidak bertaubat, maka ia mati di atas kekafiran.
Ketiga :
Ia datang kepada dukun dan bertanya kepadanya untuk mengujinya dan menjelaskan keadaannya kepada manusia. Ini tidak mengapa.
Kesimpulannya :
Hendaknya kita menjauhi segala bentuk kesyirikan yang akan menjerumuskan seseorang ke dalam neraka dan kekal di dalamnya. Di antara bentuk kesyirikan yang sekarang sedang beredar luas di layar TV adalah program SMS yang diadakan oleh para dukun dan peramal di negeri kita. Maka berhati-hatilah terhadap mereka.
Semoga Allah senantiasa melindungi kita dari bahaya kesyirikan.
Wallahu a'lam bishawab.
Sumber:
Al-Majmu' ats-Tsamin Min Fatawa Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin, Jilid 2 Hal. 136 – 137 yang disalin dari Al-Fatawa Asy-Syar'iyyah Fi Al-Masa'il Al-'Ashriyyah Min Fatawa Ulama' Al-Balad Al-Haram edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini 3, penerbit Darul Haq.
"Anda ingin tahu keberuntungan Anda di masa depan?"
"Ketik Reg(spasi)Weton kirim ke 9999.
"Ilustrasi di atas adalah contoh iklan yang memanfaatkan teknologi HP yang beredar di TV akhir-akhir ini. Iklan-iklan yang mengedepankan mistis dan ghaib, bermaterikan kesyirikan, muncul bagai jamur di musim hujan. Ada yang bermodel tanggal lahir seperti disebut di atas,
ada yang menggunakan primbon, ada ramalan bintang dan lain sebagainya. Pelakunya pun bermacam-macam; ada Ki Joko Bodo, Mbah Roso, ada juga Mama Lauren, dan masih banyak lagi.
Dalam pandangan syariat Islam pelaku semua itu dinamakan dukun atau peramal.
Para dukun dan peramal ini dengan terang-terangan mendakwahkan dirinya mengetahui perkara gaib, dan menyeru manusia untuk berbondong-bondong melakukan kesyirikan. Sebagian orang mungkin sudah bisa menebak, bahwa itu adalah sebuah bentuk perdukunan yang dikemas rapi. Namun, ada sebagian orang yang tidak mengerti dan terjerumus ke dalam lembah kesyirikan ini. Na’udzubillah min dzalik. Nah, sebenarnya bagaimana hakikat perdukunan dan bagaimana hukum mendatangi dukun (dengan kita mengirimkan sms kepada mereka sama saja dengan mendatanginya) ?
Berikut ini adalah.
Fatwa Syekh Ibnu Utsaimin yang menjelaskan tentang,
Perdukunan dan hukum mendatangi dukun
Kahanah (perdukunan) wazan fa'alah diambil dari kata takahhun, yaitu menerka-nerka dan mencari hakikat dengan per¬kara-perkara yang tidak ada dasarnya. Perdukunan di masa jahiliyah dinisbatkan kepada suatu kaum yang dihubungi oleh para setan yang mencuri pembicaraan dari langit dan menceritakan apa yang didengarnya kepada mereka.
Kemudian mereka mengambil ucapan yang disampaikan kepada mereka dari langit lewat perantaraan para setan dan menambahkan pernyataan di dalamnya. Kemudian mereka menceritakan hal itu kepada manusia. Jika sesuatu terjadi yang sesuai dengan apa yang mereka katakan, maka orang-orang tertipu dengan mereka dan menjadikan mereka sebagai rujukan dalam memutuskan perkara di antara mereka serta menyimpulkan apa yang akan terjadi di masa depan. Karena itu, kita katakan,
"Dukun adalah orang yang menceritakan tentang perkara-perkara ghaib di masa yang akan datang." Sedangkan orang yang mendatangi dukun atau peramal itu terbagi menjadi tiga macam:
Pertama :
Orang yang datang kepada dukun atau peramal lalu bertanya kepadanya dengan tanpa mempercayainya. Ini diharamkan. Hukuman bagi pelakunya ialah tidak diterima shalatnya selama 40 malam, sebagaimana termaktub dalam Shahih Muslim bahwa Nabi bersabda :
"Barangsiapa yang datang kepada peramal lalu bertanya kepadanya tentang suatu perkara, maka tidak diterima shalatnya selama 40 hari atau 40 malam."
(Riwayat Muslim)
Kedua :
Orang yang datang kepada dukun lalu bertanya kepadanya dan mempercayai apa yang diberitakannya, maka ini merupakan kekafiran kepada Allah.
Karena ia mempercayai bahwa sang dukun mengetahui perkara gaib, sedangkan mempercayai seseorang tentang pengakuannya mengetahui perkara gaib adalah mendustakan
firman Allah,
"Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang gaib, kecuali Allah."
(An-Naml: 65)
Karenanya, disinyalir dalam hadits shahih,
" Barangsiapa mendatangi dukun lalu mempercayai apa yang diucapkannya, maka ia telah kafir kepada apa yang diturunkan kepada Muhammad."
(Riwayat At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad)
Ketiga :
Orang yang datang kepada dukun lalu bertanya kepadanya untuk menjelaskan ihwalnya kepada manusia, dan bahwasanya itu adalah perdukunan, pengelabuan dan penyesatan. Ini tidak mengapa. Dalil mengenai hal itu, bahwa Nabi kedatangan Ibnu Shayyad, lalu Nabi menyembunyikan sesuatu untuknya dalam dirinya, lalu beliau bertanya kepadanya, apakah yang beliau sembunyikan untuknya? la menjawab, "Asap." Nabi bersabda,"Pergilah dengan hina, kamu tidak akan melampaui kemampuanmu. "
(Riwayat Bukhari dan Muslim)
Inilah keadaan orang yang datang kepada dukun,
Pertama :
Ia datang kepada dukun lalu bertanya kepadanya dengan tanpa mempercayainya dan tanpa tujuan menjelaskan keadaannya (kepada manusia). Ini diharamkan, dan hukuman bagi pelakunya ialah tidak diterima shalatnya selama 40 malam.
Kedua :
Ia bertanya kepadanya dan mempercayainya. Ini kekafiran kepada Allah, yang wajib atas manusia bertaubat darinya dan kembali kepada Allah. Jika tidak bertaubat, maka ia mati di atas kekafiran.
Ketiga :
Ia datang kepada dukun dan bertanya kepadanya untuk mengujinya dan menjelaskan keadaannya kepada manusia. Ini tidak mengapa.
Kesimpulannya :
Hendaknya kita menjauhi segala bentuk kesyirikan yang akan menjerumuskan seseorang ke dalam neraka dan kekal di dalamnya. Di antara bentuk kesyirikan yang sekarang sedang beredar luas di layar TV adalah program SMS yang diadakan oleh para dukun dan peramal di negeri kita. Maka berhati-hatilah terhadap mereka.
Semoga Allah senantiasa melindungi kita dari bahaya kesyirikan.
Wallahu a'lam bishawab.
Sumber:
Al-Majmu' ats-Tsamin Min Fatawa Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin, Jilid 2 Hal. 136 – 137 yang disalin dari Al-Fatawa Asy-Syar'iyyah Fi Al-Masa'il Al-'Ashriyyah Min Fatawa Ulama' Al-Balad Al-Haram edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini 3, penerbit Darul Haq.
Kapankah Ketaatan Terhadap Sesama Makhluk Menjadi Syirik Besar?
Kapankah Ketaatan Terhadap Sesama Makhluk Menjadi Syirik Besar?Al-Hamdulillah.
Ketaatan terhadap sesama makhluk menjadi perbuatan syirik besar, dalam beberapa kondisi.
Di antaranya ketika seseorang menaati sesama makhluk dalam menganggap halal perbuatan haram, atau menganggap haram perbuatan halal, atau orang yang ditaati membuat satu peraturan dan membentuk satu undang-undang, lalu orang yang menaatinya berkeyakinan bahwa undang-undang itu lebih sempurna dari atau lebih memenuhi kemaslahatan daripada syariat Allah, atau setara dengan syariat Allah, atau menurut keyakinannya syariat Allah tetap lebih baik, hanya saja menggunakan undang-undang buatan manusia itu juga boleh. Dalilnya adalah firman Allah:"Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai rabb-rabb selain Allah.." (Q.S At-Taubah : 32). Adi bin Hatim berkata: "Wahai Rasulullah! Dahulu kami tidak pernah menyembah mereka." Rasulullah bertanya: "Bukankah mereka menghalalkan yang diharamkan Allah, lalu kalian ikut menghalalkannya, dan mengharamkan yang dihalalkan Allah, dan kalianpun turut mengharamkannya?" Adi menjawab: "Benar wahai Rasulullah." Beliau bersabda: "Itulah bentuk ibadah kepada mereka."Jadi orang-orang Nashrani yang menaati para rahib mereka dalam berbuat maksiat dengan keyakinan membolak-balik yang halal dan yang haram dengan mengikuti pendapat para rahib tersebut, dianggap ibadah kepada selain Allah. Itu termasuk perbuatan syirik besar yang bertentangan dengan tauhid. Adapun berkenaan dengan pertanyaan, bila orang yang menaati orang tuanya misalnya dalam berbuat maksiat itu meyakini bahwa perbuatannya itu maksiat, dianggap ia memperturutkan hawa nafsu, bukan ketaatannya yang dimaksud di atas. Atau bila ia melakukannya karena takut dihukum oleh kedua orang tuanya bila tidak sampai tingkat "dalam paksaan", maka ia berdosa, berbuat maksiat dan melanggar sabda Nabi: "Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Allah Azza wa Jalla." Diriwayatkan oleh Ahmad (1041), dan hadits itu shahih. Namun dengan perbuatan itu, si anak tidaklah menjadi musyrik. Akan tetapi apabila si anak berkeyakinan bahwa ucapan orang tuanya itu dapat menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal, maka ia telah melakukan perbuatan syirik besar.Seyogyanya seorang muslim itu memerangi dirinya sendiri agar hawa nafsunya mengikuti ajaran yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, mendahulukan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya daripada ketaatan kepada siapapun, hendaknya cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya juga lebih daripada cinta kepada selain keduanya. Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:"Seorang di antaramu hanya dianggap telah beriman bila aku (Rasulullah) lebih dia cintai daripada anaknya, orang tuanya dan seluruh manusia."
Ketaatan terhadap sesama makhluk menjadi perbuatan syirik besar, dalam beberapa kondisi.
Di antaranya ketika seseorang menaati sesama makhluk dalam menganggap halal perbuatan haram, atau menganggap haram perbuatan halal, atau orang yang ditaati membuat satu peraturan dan membentuk satu undang-undang, lalu orang yang menaatinya berkeyakinan bahwa undang-undang itu lebih sempurna dari atau lebih memenuhi kemaslahatan daripada syariat Allah, atau setara dengan syariat Allah, atau menurut keyakinannya syariat Allah tetap lebih baik, hanya saja menggunakan undang-undang buatan manusia itu juga boleh. Dalilnya adalah firman Allah:"Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai rabb-rabb selain Allah.." (Q.S At-Taubah : 32). Adi bin Hatim berkata: "Wahai Rasulullah! Dahulu kami tidak pernah menyembah mereka." Rasulullah bertanya: "Bukankah mereka menghalalkan yang diharamkan Allah, lalu kalian ikut menghalalkannya, dan mengharamkan yang dihalalkan Allah, dan kalianpun turut mengharamkannya?" Adi menjawab: "Benar wahai Rasulullah." Beliau bersabda: "Itulah bentuk ibadah kepada mereka."Jadi orang-orang Nashrani yang menaati para rahib mereka dalam berbuat maksiat dengan keyakinan membolak-balik yang halal dan yang haram dengan mengikuti pendapat para rahib tersebut, dianggap ibadah kepada selain Allah. Itu termasuk perbuatan syirik besar yang bertentangan dengan tauhid. Adapun berkenaan dengan pertanyaan, bila orang yang menaati orang tuanya misalnya dalam berbuat maksiat itu meyakini bahwa perbuatannya itu maksiat, dianggap ia memperturutkan hawa nafsu, bukan ketaatannya yang dimaksud di atas. Atau bila ia melakukannya karena takut dihukum oleh kedua orang tuanya bila tidak sampai tingkat "dalam paksaan", maka ia berdosa, berbuat maksiat dan melanggar sabda Nabi: "Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Allah Azza wa Jalla." Diriwayatkan oleh Ahmad (1041), dan hadits itu shahih. Namun dengan perbuatan itu, si anak tidaklah menjadi musyrik. Akan tetapi apabila si anak berkeyakinan bahwa ucapan orang tuanya itu dapat menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal, maka ia telah melakukan perbuatan syirik besar.Seyogyanya seorang muslim itu memerangi dirinya sendiri agar hawa nafsunya mengikuti ajaran yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, mendahulukan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya daripada ketaatan kepada siapapun, hendaknya cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya juga lebih daripada cinta kepada selain keduanya. Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:"Seorang di antaramu hanya dianggap telah beriman bila aku (Rasulullah) lebih dia cintai daripada anaknya, orang tuanya dan seluruh manusia."
Kamis, 20 November 2008
"SYRIK"
Oleh : NURDIN.VERIN.YRASKA
Syrik adalah suatu kezholiman.
Perbuatan yang menempatkan suatu Ibadah bukan pada tempatnya,
memberinya kepada yang tidak berhak menerimanya.
Syrik bukan hanya khusus penyembah berhala saja.
Kesyrikan yang dimaksudkan didalam Al-Qur'an dan As-Sunnah yang pernah diperangi oleh Rasululloh SAW dimasa Kafir Quraisy Jahilia adalah tentang,
KEKUFURAN yaitu Al-I'tikod / Keyakinan hati :
Orang orang yang selalu bergantung dan selalu berupaya mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan cara berdoa, memohon, kepada :
Berhala berhala, Arca arca, Malikat malaikat, Nabi nabi, Nabi Isa, Wali wali, maupun orang sholeh yang telah wafat. Dengan beranggapan semua ini dapat mendekatkan diri kepada AllahSWT.
Mereka menjadikan Makhluk ciptaan Allah sebagai :
NASITHOH /PERANTARA.
Inilah Kesyrikan yang dimaksudkan didalam Al-Qur'an,
dan yang diperangi oleh Baginda Rosululloh SAW dan para Nabi nabi dan Rosul rosul terdahulu.
Perlakuan syrik tidak dapat dimaafkan dengan alasan karena tidak mengerti.
Syrik yang terjdi dimuka bumi ini adalah karena sikap berlebih lebihan terhadap orang yang sholeh, pengagungn yang berlebihan sampai pada tingkat taqdis, yaitu pengkultusan, cinta yang berlebihan terhadap orang yang sholeh, diterimanya hal hal yang bid'ah, syaitan mengetahui betul akibat yang ditimbulkan perbuatan bid'ah, dengan senjata inilah syaitan membisikkan dan menjerumuskan manusia dari perbuatan bid'ah yang dianggap baik, diterimanya hal hal bid'ah padahal syariat Ilahi dan fitrah manusia menolaknya.
Pernyataan para Salaf bahwa bid'ah adalah penyebab kekafiran.
Mengetahui kaidah umum sikap Ghuluw/Berlebihan dalam Agama adalah dilarang.
Rasululloh saw bersabda :
Jauhilah oleh kamu sekalian sikap berlebihan, karena sesungguhnya sikap yang berlebihan itulah yang telah menghancurkan umat umat sebelum kamu
(Hadist riwayat Imam Ahmad, At-Tarmizi dan Ibnu Majah
dari Ibnu Abbas Radiyalohu Anhuma).
Muslim meriwayatkan dari Ibnu Mas'ud bahwa Rasululloh saw bersabda :
Binasalah orang orang yang berlebihan tindakannya.
Beliau sebutkan kalimat ini sampai tiga kali.
"Kategori - Syrik "
Syrik Akbar :
- Perlakuan menyekutukan Allah dalam hal Ibadah.
- Takut dan cinta kepadanya sebagaimana ia takut dan cinta kepda Allah swt.
- Memalingkan salah satu bentuk Ibadah kepadanya.
- Tawaf sekeliling kubur.
- Menyembelih bukan karena Allah.
- Laki laki beribadah sambil memukul gendang.
- Bersumpah dengan selain Allah.
- Penyembelihan kurban untuk berhala berhala, bernazar, berdoa kepadanya seperti
yang dilakukan orang musyrikin yang menyembah orang mati.
Pelaku jenis syrik ini mengakibatkan pelakunya keluar dari Islam.
Menghapus seluruh amal yang disertainya.
" Syrik Ashghor / syrik Kecil "
Yaitu : Riya ( sifat pura pura dalam melakukan amal Ibadah, maupun amal sholeh, tanpa niat Ibadah karena Allah ).
Tidak ikhlas karena Allah dalam beribadah.
Melakukan amal karena ingin dilihat oleh manusia.
Merasa malas saat tidak ada yang melihatnya
Riya atau sifat pura pura ini lebih halus dari jalannya semut hitam pada malam gelap gulita.
Merasa senang saat orang lain melihat perbuatan baiknya, dan merasa malas saat tidak ada orang yang melihatnya.
Rasulullah SAW bersbda :
Yang paling Aku takutkan terjadi atas diri kalian adalah Syrik kecil,
maka para sahabat bertanya :
Apakah syrik kecil itu wahai Rasulullah, lalu beliau menjawab : Riya.
(HR. AHMAD dan Abu Daud).
Pelaku jenis syrik ini dapat menghapus seluruh amal yang disertainya, tetapi tidak membatalkan ke Islamannya. Syrik Ashghor lebih berat dosanya daripada perbuatan dosa dosa besar.
Syrik Ashghor ini adalah perbuatan dosa yang paling dikawatirkan oleh Rasululloh saw terhadap para shabat, padahal sahabat adalah orang orang yang sholeh.
Diriwayatkan dari Abu Sa'id Radhiyallahu'Anhu.
Bahwa Rasululloh saw bersabda :
Maukah kamu aku beritahu tentang sesuatu,yang menurutku,
lebih aku khawatirkan terhadap kamu daripada Al-Masih Ad-Dajjal,
Sahabat mnjawab :
Baiklah, ya Rasululloh Beliau pun bersabda :
Yaitu : Ketika seseorang berdiri melakukan shalat, Dia perindah shalatnya itu karena mengetahui ada orang lain yang memperhatikannya
(Hadits riwayat Imam Ahmad).
Langganan:
Komentar (Atom)